Terkadang kita sering terjebak makna rumah ya yg penting bisa untuk sekedar berteduh,begitu ya kira-kira klo konteksnya faktor finansial yg terbatas.Padahal juga faktor keterbatasan dana itu bukan alat pembenaran sebuah penyimpulan makna.
Saya sering mensosialisasikan kpd klien klien saya bahwa makna rumah itu bukan sekedar bisa berlindung dari panas dan hujan,juga bukan sekedar keindahan/estetika.Tapi yg lebih dalam lagi adalah bagaimana kita bisa nyaman berada di rumah tersebut nantinya.Ketika kita sudah merasa nyaman, secara tidak langsung kita sudah merasakan semuanya indah,nah substansinya sebenarnya sederhana spt itu. Kemudian kenyamanan itu akan terbangun ketika proses perencanaan sebuah rumah itu didialogkan antara keinginan si calon penghuni rumah dengan sang arsitek, pengalaman saya adanya perdebatan2 yg sengit akan cukup konstruktif untuk melahirkan sebuah karya. Meskipun saya dengan background arsitek,tidak serta merta harus sesuai keinginan saya, karena saya perlu banyak sekali masukan dari klien. Begitu juga dengan si klien, meskipun mereka meng"hire" saya dan punya uang ga serta merta juga harus diturutin kemauannya.
Bicara kenyamanan,maka kita akan bicara masalah penataan ruang2 di dalam bangunan itu sendiri, tentunya masing2 rumah akan berbicara lain sesuai dengan masing2 karakter dari penghuni rumah tersebut.penyesuaian karakter dari penghuni tsb yg nantinya akan menjadi output dari sebuah karya arsitektur. Keindahan hanyalah sebuah tempelan (bedak) saja,yg tiap waktu bisa kita rubah2. Tetapi "ruang" adalah "ruang" dimana makna kenyaman rumah akan terbangun dari sini.