Mengenai Saya

magelang-ngayojokarto-batavia, N.K.R.I, Indonesia
THiS adalah simbolisasi nama saya yg "ber"..Taufiq HIdayat Syah ... THiS juga sifatnya konotatif,dalam "boso londo" artinya INI, yg dalam basa jawa saya beranikan diri untuk bilang "IKI LHO AKU"...ato "AING TEA" dalam ranah sunda...hehehe... yachh..sudah seperti itu aja,SIMPLE... rabu(7)+pon(7)=14 ini weton saya yg lahir tgl 15.04.70, shio nya ANJING menggonggong ...,saya lahir dan gede di magelang jawa tengah, kota yg sejuk,kota yg secara imajiner disebut PAKUNING TANAH JOWO (paku yg ditancapkan tepat dipusat/centre pulau jawa) yg menurut cerita jawa kalo paku ini diambil maka pulau jawa akan ter"eliminasi". saya tumbuh dan hidup selalu tidak jauh dengan apa yg namanya SENI...,semua aktifitas saya banyak sekali bersinggungan dengan yg namanya SENI especially seni desain mendesain...yg singkat cerita FINALLY saya bekerja sekarang juga dalam dunia SENI ARSITEKTUR...buat saya kreativitas adalah segala-galanya...FEED YOUR MIND...

Senin, 26 November 2007

FUN GAME "GOBAK SODOR"

...Tiba-tiba teringat masa-masa kecil dulu,mainan gobak sodor...ingat?
coba aku explain dikit ya apa itu gobak sodor...

Gobak Sodor adalah sejenis permainan daerah dari Indonesia. Permainan ini adalah sebuah permainan grup yang terdiri dari dua grup, di mana masing-masing tim terdiri dari 3 - 5 orang. Inti permainannya adalah menghadang lawan agar tidak bisa lolos melewati garis ke baris terakhir secara bolak-balik, dan untuk meraih kemenangan seluruh anggota grup harus secara lengkap melakukan proses bolak-balik dalam area lapangan yang telah ditentukan.
Permainan ini biasanya dimainkan di lapangan bulu tangkis dengan acuan garis-garis yang ada atau bisa juga dengan menggunakan lapangan segiempat dengan ukuran 9 x 4 m yang dibagi menjadi 6 bagian. Garis batas dari setiap bagian biasanya diberi tanda dengan kapur. Anggota grup yang mendapat giliran untuk menjaga lapangan ini terbagi dua, yaitu anggota grup yang menjaga garis batas horisontal dan garis batas vertikal. Bagi anggota grup yang mendapatkan tugas untuk menjaga garis batas horisontal, maka mereka akan berusaha untuk menghalangi lawan mereka yang juga berusaha untuk melewati garis batas yang sudah ditentukan sebagai garis batas bebas. Bagi anggota grup yang mendapatkan tugas untuk menjaga garis batas vertikal (umumnya hanya satu orang), maka orang ini mempunyai akses untuk keseluruhan garis batas vertikal yang terletak di tengah lapangan. Permainan ini sangat mengasyikkan sekaligus sangat sulit karena setiap orang harus selalu berjaga dan berlari secepat mungkin jika diperlukan untuk meraih kemenangan.

Udah ingat ya?
Waktu Sekolah Dasar dulu hampir tiap hari mainan gobak sodor, sebelum bel masuk sampai jam istirahat pun diisi sama yg namanya gobak sodor tsb. Pulang sekolah, habis tidur siang bareng-bareng sama temen-temen kampung mainan gobak sodor lagi, wah meriah klo inget masa itu.
Tapi sampai sekarang saya belum tau "GOBAK SODOR" itu artinya apa dan dari bahasa apa? ada yg bisa bantu?

Jaman sekarang rasa-rasanya belum pernah liat anak-anak di kota ataupun di kampung mainan gobak sodor. Meski jaman udah berubah tapi sepertinya asyik juga klo kita ngajarin anak-anak kita mainan gobak sodor atau kalo perlu diadakan event "PERLOMBAAN GOBAK SODOR", biar mainan ini awet sebagai salah satu bagian dari warisan bangsa ini.

Minggu, 25 November 2007

MERAYAKAN KEMBALI 1980-an

Mengapa ada sepenggal intro lagu "That’s What Friends Are For" di film "Shrek 3"? Mengapa grup vokal anak muda Grogie menyanyikan lagu lawas "Mungkinkah Terjadi"? Dan mengapa beberapa klab malam terbaru di Jakarta memutar lagu-lagu "classic disco"? Jawabannya sederhana: ini saatnya kembali ke era 1980-an.
Salah satu klab yang memiliki ruang khusus untuk musik disko ala 1980-an adalah X2. Klab yang terletak di pusat perbelanjaan Plaza Senayan, Jakarta Selatan, dan dibuka sejak 23 Februari itu memiliki empat ruangan dengan konsep musik berbeda. Salah satunya bernama Vintage.
Saat memasuki ruangan klub dengan nuansa warna biru itu langsung terasa suasana berbeda dibanding lazimnya klab-klab malam masa kini. Di Vintage, DJ memutar lagu-lagu disko klasik, lagu-lagu pengiring dansa-dansi yang masih bisa dinyanyikan dengan mulut. Memang tak semuanya dari era 1980-an karena ada juga lagu-lagu disko seperti Night Fever-nya Bee Gees dari tahun 1977 atau Let The Music Play dari Barry White tahun 1974.
Selain Vintage di X2, ada juga klab Nine Clouds di lantai 9 Menara Jamsostek yang menawarkan musik dansa 1980-an. Menurut Direktur Nine Clouds Hendri Suryadi (40), klab tersebut sejak awal mengambil konsep vintage. Untuk menghadirkan suasana "lama tetapi ngetren" itu dihadirkan musik-musik disko klasik atau jazzy tunes setiap malam.

Menggali memori

Selain hiburan yang ditawarkan klab, kebangkitan era 1980-an dapat dilihat juga pada maraknya CD atau kaset keluaran terbaru berisi kompilasi lagu-lagu era itu. Label rekaman Sony-BMG Indonesia, misalnya, bahkan sudah merilis album kompilasi berjudul Big 80’s Vol.1 sejak 2004 yang dilanjutkan dengan 80’s Replay Vol.1 & 2 (2005) dan Big 80’s Vol.2 (2006).
Desember ini, Sony-BMG akan merilis album berjudul The Jaduls yang berisi koleksi lagu-lagu era 1980-an, macam Billie Jean (dibawakan Michael Jackson), I Need You (BVSMP), hingga Baby Don’t Forget My Number (Milli Vanilli).
Dua label besar lainnya, Warner Music Indonesia dan Universal Musik Indonesia, tak mau kalah. Universal sedang bersiap meluncurkan album Best Movie Hits yang berisi lagu-lagu soundtrack era 1980-an, termasuk Flash Dance (What A Feeling) yang dibawakan Irene Karra dan Against All Odds (Take A Look At Me Now) dari Phil Collins.
Sementara Warner baru saja mengeluarkan album 80’s Slowdance dengan lagu-lagu seperti First Love (Nikka Costa), Cherish (Kool & the Gang), dan Never Gonna Change My Love for You (George Benson).
"Album-album kompilasi itu menggali memori masa lalu. Orang susah cari album aslinya. Dengan kompilasi mereka mendapatkan banyak memori," kata Agus Hidayat, Marketing Manager-International Department Warner Music Indonesia.

Khusus 1980-an
Stasiun-stasiun radio pun beramai-ramai mengusung tema 1980-an. Radio Sonora di frekuensi 92.0 MHz menyiarkan acara berjudul Delapanpuluh, yaitu acara bincang-bincang dan musik yang menggali kenangan era 1980-an, mulai dari membahas film Si Unyil sampai mode rambut dan celana.
Jika Anda menyalakan radio di Jakarta menjelang tengah malam, lagu-lagu era 1980-an juga dapat didengarkan di beberapa stasiun, seperti Cosmopolitan FM (90.4 MHz), Trijaya (104.6 MHz), Female (99.5 MHz), dan RRI Pro-2 (105.0 MHz).
Dua stasiun radio yang masih dalam satu kelompok usaha, yakni Ramako (105.8 MHz) dan KISFM (95.1 MHz), bahkan mengkhususkan diri memutar lagu-lagu era 1980-an, baik lagu Indonesia maupun Barat. "Komposisinya 70 persen lagu 1980-an, 20 persen 1990-an, dan 10 persen lagu baru," ungkap Kevin Onyx, music director radio KISFM, yang menerapkan konsep tersebut sejak tahun 2000.
Tren back to 1980s ini pun terlihat di seluruh dunia. Band-band yang sempat mewarnai era 1980-an dan sudah bubar, seperti The Police dan Genesis, memutuskan reuni dan menggelar tur lagi. Hollywood pun memproduksi film-film baru yang bernuansa 1980-an, seperti Music & Lyrics (2006) dan Transformers (dibuat berdasarkan mainan anak-anak dan serial film kartun TV yang ditayangkan di AS 1984-1987). Dalam film Transformers (2007) yang ber-setting waktu masa kini itu, salah satu soundtrack-nya adalah Drive, lagu yang dipopulerkan kelompok The Cars tahun 1984.
Pasar potensial
Kebanyakan pelaku industri hiburan beralasan, kembalinya tren 1980-an itu karena ada pasar potensial. "Orang-orang yang mengalami masa remaja pada era 1980-an saat ini telah mapan. Mereka adalah para eksekutif muda yang rata-rata menduduki posisi pengambil keputusan operasional di sebuah perusahaan. Minimal level supervisor," kata Kevin dari KISFM, yang mengatakan pendapatan iklan radionya langsung melonjak drastis setelah berganti konsep menjadi radio khusus 1980-an.
Senada dengan Kevin, Media Relations Coordinator X2 Rani Marunduh mengatakan, Vintage sengaja dibuka untuk memberi alternatif hiburan bagi para profesional dan eksekutif muda berusia akhir 20-an hingga 30-an. "Mereka sudah mapan secara ekonomi, tetapi masih ingin bergaul dan hang out. Kalau generasi 1960-an atau 1970-an kan sudah ketuaan buat dugem," paparnya.
Sementara, menurut Agus Hidayat dari Warner, di pasar saat ini sedang terjadi siklus alami penikmat musik yang berbasis era. "Siklus itu selalu ada dan akan berproses dengan sendirinya. Kami memanfaatkan warisan repertoar dan yakin ada komunitas pendengar setia lagu-lagu era 1980," kata Agus.
Apa pun alasannya, sekarang saatnya merayakan kembali 1980-an!

(KOMPAS,Minggu 25 November 2007-Dahono Ftrianto & Frans Sartono )

BALADA BUSWAY

...Hari minggu ini ketika saya baca harian KOMPAS,tergelitik saya membaca keluhan seorang ibu yg menulis di redaksi terhormat.Si ibu yg punya rumah di daerah cinere dan berkantor di setiabudi kuningan ini selama 15 tahun menggunakan mobil pribadi utk pulang pergi ke kantor, perjalanan dari rumah hingga tiba di kantor memakan waktu 2,5 jam. Sejak adanya busway koridor VI jurusan ragunan - kuningan si ibu dengan diantar suami dari rumah ke terminal busway ragunan yg kemudian menggunakan transjakarta sampai setiabudi kuningan,waktu yg ditempuh dari rumah hingga sampai kantor adalah 1,5 jam, akhirnya pilihan moda angkutan jatuh ke transjakarta karena lebih irit dan waktu perjalanan lebih cepat, dan si ibu ini adalah salah contoh keberhasilan pemprov DKI membuat "goal" beralihnya pengguna kendaraan pribadi ke busway. Kenikmatan ini dirasakan dari bulan mei 2007 hingga oktober 2007,....setelah itu?...
Bergulirnya proyek2 busway koridor VIII dan seterusnya yg gencar dan menyeluruh ke hampir semua ruas2 jalan2 utama sejak akhir oktober,akhirnya mempunyai impact yg ruuuuaaarrr biasaaa...JAKARTA MACET TOTAL dimana-mana,tak kurang dari pimpinan negeri ini pun akhirnya sampai turun tangan "urun rembug" ttg kemacetan ini. Walhasil,pemprov akan mengevaluasi perencanaan busway dan utk ruas2 busway yg ada akan memperbolehkan mobil2 pribadi masuk ke dalamnya (dgn tujuan utk mengurangi kemacetan)....
Kembali ke cerita si ibu tadi,...dengan masuknya mobil2 pribadi masuk ke jalur busway,perjalanan si ibu dari rumah sampai ke kantor waktu tempuh paling cepat 2,5 jam dengan moda transjakarta...(sama dengan ketika menggunakan mobil pribadi yg notabene nggak harus berdiri selama 2,5 jam)...,menarik memang melihat fenomena tersebut,yg kalau kita simpulkan konsep busway ini hanya mampu bertahan selama 6 bulan.
Tergesa-gesanya proyek ini yg dilaksanakan secara bersama2 harus dibayar mahal. Sebenarnya konsep moda angkutan ini sangat bagus,jika dilaksanakan secara gradual dan mempersiapkan segala macam infrastruktur pendukungnya secara mantap. Feeder2 busway belum jelas, Bus2 yg belum tersedia secara ideal, Pembebasan lahan utk pengganti lajur jalan yg hilang belum terpenuhi, Kantong2 parkir mobil2 pribadi belum ada ..., selama infrastruktur tersebut belum terpenuhi dan proyek busway tetap berjalan maka jangan berharap KENYAMANAN DAN KE"SIMPLE"AN yg diidam2kan masyarakat urban akan terpenuhi,alih-alih terpenuhi...yg ada adalah paranoid utk sekedar keluar rumah.

Sabtu, 24 November 2007

FILM KITA SUDAH BANGKIT

Saya termasuk peng"apresiasi" film2 indonesia sejak AADC yg ketika itu orang masih sangat alergi untuk menonton film indonesia (ya memang karena terlalu lamanya mati film indonesia sejak dekade 80-an). Saya memberanikan diri utk menentang arus (ketika itu saya diejek2 karena nonton film indonesia AADC) karena saya terus terang interest dengan crew2 film tersebut yg memang saya ikutin saya apresiasi dgn semangat dan idealisme mereka.Setelah saya selesai nonton AADC, saya bergumam..."wahhh kayaknya film indonesia bakal bangkit lagi nih"...BENERAN DEH SKARANG TERBUKTI...,dan saya termasuk pengkoleksi VCD2 FILM INDONESIA (tentunya yg bukan bajakan..hehehe).


Banyak film2 indonesia yg bagus2...,tapi masih juga ada yg "ecek2" yg menurut saya bikin sinetron tapi dimainkan di bioskop 21.Saya sempat kawatir dengan berbondong2nya punggawa2 sinetron yg bermigrasi ke film layar lebar, karena kita tau semua bahwa sinetron2 kita itu mutunya RENDAH banget, ngga MENDIDIK, ngga RASIONAL, dan masih banyak nggak nggak yg lain, padahal klo kita ikutin perjalanan bangkitnya film indonesia dari sisi cerita dan kualitas filmnya pun track nya sudah bagus,saya berharap ... tidak terkontaminasi!!


Banyak temen2 yg tadinya alergi nonton film indonesia, saya paksa untuk nonton...ujung2nya memang pada bilang "ternyata bagus ya"...


Bukan saya sok nasionalis ato apapun namanya, tapi memang realitasnya film indonesia sudah bangkit, peran kita untuk mengapresiasi nya biar film indonesia menjadi tuan rumah di negaranya sendiri...HIDUP FILM INDONESIA...