Mengapa ada sepenggal intro lagu "That’s What Friends Are For" di film "Shrek 3"? Mengapa grup vokal anak muda Grogie menyanyikan lagu lawas "Mungkinkah Terjadi"? Dan mengapa beberapa klab malam terbaru di Jakarta memutar lagu-lagu "classic disco"? Jawabannya sederhana: ini saatnya kembali ke era 1980-an.
Salah satu klab yang memiliki ruang khusus untuk musik disko ala 1980-an adalah X2. Klab yang terletak di pusat perbelanjaan Plaza Senayan, Jakarta Selatan, dan dibuka sejak 23 Februari itu memiliki empat ruangan dengan konsep musik berbeda. Salah satunya bernama Vintage.
Saat memasuki ruangan klub dengan nuansa warna biru itu langsung terasa suasana berbeda dibanding lazimnya klab-klab malam masa kini. Di Vintage, DJ memutar lagu-lagu disko klasik, lagu-lagu pengiring dansa-dansi yang masih bisa dinyanyikan dengan mulut. Memang tak semuanya dari era 1980-an karena ada juga lagu-lagu disko seperti Night Fever-nya Bee Gees dari tahun 1977 atau Let The Music Play dari Barry White tahun 1974.
Selain Vintage di X2, ada juga klab Nine Clouds di lantai 9 Menara Jamsostek yang menawarkan musik dansa 1980-an. Menurut Direktur Nine Clouds Hendri Suryadi (40), klab tersebut sejak awal mengambil konsep vintage. Untuk menghadirkan suasana "lama tetapi ngetren" itu dihadirkan musik-musik disko klasik atau jazzy tunes setiap malam.
Menggali memori
Selain hiburan yang ditawarkan klab, kebangkitan era 1980-an dapat dilihat juga pada maraknya CD atau kaset keluaran terbaru berisi kompilasi lagu-lagu era itu. Label rekaman Sony-BMG Indonesia, misalnya, bahkan sudah merilis album kompilasi berjudul Big 80’s Vol.1 sejak 2004 yang dilanjutkan dengan 80’s Replay Vol.1 & 2 (2005) dan Big 80’s Vol.2 (2006).
Desember ini, Sony-BMG akan merilis album berjudul The Jaduls yang berisi koleksi lagu-lagu era 1980-an, macam Billie Jean (dibawakan Michael Jackson), I Need You (BVSMP), hingga Baby Don’t Forget My Number (Milli Vanilli).
Dua label besar lainnya, Warner Music Indonesia dan Universal Musik Indonesia, tak mau kalah. Universal sedang bersiap meluncurkan album Best Movie Hits yang berisi lagu-lagu soundtrack era 1980-an, termasuk Flash Dance (What A Feeling) yang dibawakan Irene Karra dan Against All Odds (Take A Look At Me Now) dari Phil Collins.
Sementara Warner baru saja mengeluarkan album 80’s Slowdance dengan lagu-lagu seperti First Love (Nikka Costa), Cherish (Kool & the Gang), dan Never Gonna Change My Love for You (George Benson).
"Album-album kompilasi itu menggali memori masa lalu. Orang susah cari album aslinya. Dengan kompilasi mereka mendapatkan banyak memori," kata Agus Hidayat, Marketing Manager-International Department Warner Music Indonesia.
Khusus 1980-an
Stasiun-stasiun radio pun beramai-ramai mengusung tema 1980-an. Radio Sonora di frekuensi 92.0 MHz menyiarkan acara berjudul Delapanpuluh, yaitu acara bincang-bincang dan musik yang menggali kenangan era 1980-an, mulai dari membahas film Si Unyil sampai mode rambut dan celana.
Jika Anda menyalakan radio di Jakarta menjelang tengah malam, lagu-lagu era 1980-an juga dapat didengarkan di beberapa stasiun, seperti Cosmopolitan FM (90.4 MHz), Trijaya (104.6 MHz), Female (99.5 MHz), dan RRI Pro-2 (105.0 MHz).
Dua stasiun radio yang masih dalam satu kelompok usaha, yakni Ramako (105.8 MHz) dan KISFM (95.1 MHz), bahkan mengkhususkan diri memutar lagu-lagu era 1980-an, baik lagu Indonesia maupun Barat. "Komposisinya 70 persen lagu 1980-an, 20 persen 1990-an, dan 10 persen lagu baru," ungkap Kevin Onyx, music director radio KISFM, yang menerapkan konsep tersebut sejak tahun 2000.
Tren back to 1980s ini pun terlihat di seluruh dunia. Band-band yang sempat mewarnai era 1980-an dan sudah bubar, seperti The Police dan Genesis, memutuskan reuni dan menggelar tur lagi. Hollywood pun memproduksi film-film baru yang bernuansa 1980-an, seperti Music & Lyrics (2006) dan Transformers (dibuat berdasarkan mainan anak-anak dan serial film kartun TV yang ditayangkan di AS 1984-1987). Dalam film Transformers (2007) yang ber-setting waktu masa kini itu, salah satu soundtrack-nya adalah Drive, lagu yang dipopulerkan kelompok The Cars tahun 1984.
Pasar potensial
Kebanyakan pelaku industri hiburan beralasan, kembalinya tren 1980-an itu karena ada pasar potensial. "Orang-orang yang mengalami masa remaja pada era 1980-an saat ini telah mapan. Mereka adalah para eksekutif muda yang rata-rata menduduki posisi pengambil keputusan operasional di sebuah perusahaan. Minimal level supervisor," kata Kevin dari KISFM, yang mengatakan pendapatan iklan radionya langsung melonjak drastis setelah berganti konsep menjadi radio khusus 1980-an.
Senada dengan Kevin, Media Relations Coordinator X2 Rani Marunduh mengatakan, Vintage sengaja dibuka untuk memberi alternatif hiburan bagi para profesional dan eksekutif muda berusia akhir 20-an hingga 30-an. "Mereka sudah mapan secara ekonomi, tetapi masih ingin bergaul dan hang out. Kalau generasi 1960-an atau 1970-an kan sudah ketuaan buat dugem," paparnya.
Sementara, menurut Agus Hidayat dari Warner, di pasar saat ini sedang terjadi siklus alami penikmat musik yang berbasis era. "Siklus itu selalu ada dan akan berproses dengan sendirinya. Kami memanfaatkan warisan repertoar dan yakin ada komunitas pendengar setia lagu-lagu era 1980," kata Agus.
Apa pun alasannya, sekarang saatnya merayakan kembali 1980-an!
(KOMPAS,Minggu 25 November 2007-Dahono Ftrianto & Frans Sartono )
Mengenai Saya
- THiS
- magelang-ngayojokarto-batavia, N.K.R.I, Indonesia
- THiS adalah simbolisasi nama saya yg "ber"..Taufiq HIdayat Syah ... THiS juga sifatnya konotatif,dalam "boso londo" artinya INI, yg dalam basa jawa saya beranikan diri untuk bilang "IKI LHO AKU"...ato "AING TEA" dalam ranah sunda...hehehe... yachh..sudah seperti itu aja,SIMPLE... rabu(7)+pon(7)=14 ini weton saya yg lahir tgl 15.04.70, shio nya ANJING menggonggong ...,saya lahir dan gede di magelang jawa tengah, kota yg sejuk,kota yg secara imajiner disebut PAKUNING TANAH JOWO (paku yg ditancapkan tepat dipusat/centre pulau jawa) yg menurut cerita jawa kalo paku ini diambil maka pulau jawa akan ter"eliminasi". saya tumbuh dan hidup selalu tidak jauh dengan apa yg namanya SENI...,semua aktifitas saya banyak sekali bersinggungan dengan yg namanya SENI especially seni desain mendesain...yg singkat cerita FINALLY saya bekerja sekarang juga dalam dunia SENI ARSITEKTUR...buat saya kreativitas adalah segala-galanya...FEED YOUR MIND...
Minggu, 25 November 2007
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar